FAKULTAS EKONOMI - UNIVERSITAS DJUANDA

Januari 11, 2016

INDONESIA TIDAK KRISIS

Pemberitaan media tentang kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2015 begitu berwarna. Secara umum, 2015 bukanlah tahun yang mudah. Kelesuan dan ketidakpastian ekonomi global masih mendominasi dan memberikan pengaruh terhadap perekonomian tanah air. Sepanjang kuartal I-III, realisasi pertumbuhan ekonomi hanya berada di kisaran4 persen. Angka ini relatif tidak tinggi, tapi sebenarnya tergolong baik jika dibandingkan dengan negara-negara lain.
            Mata uang rupiah juga berfluktuasi sepanjang 2015. Sempat melemah pada beberapa pekan, kinerja rupiah juga tidak terlalu buruk jika dinilai selama satu tahun. Perlambatan ekonomi sempat dikhawatirkan membawa Indonesia kembali pada kondisi krisis tahun 1998. Namun, hal ini dibantah oleh Febrio Kacaribu, Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI).
            Menurut Febrio, tidak adil membandingkan kondisi ekonomi saat ini dengan keadaan 17 tahun yang lalu. “Waktu itu, perekonomian kita masih sangat kecil, sehingga begitu ada gejolak di pasar global, rupiah langsung anjlok. Sekarang jauh berbeda,” kata salah satu dosen pengajar FEB UI itu. Kondisi kelesuan ekonomi internasional selama beberapa tahun terakhir telah menciptakan kondisi yang disebut the new normal. Situasi normal yang baru ini juga melingkupi nilai tukar rupiah. Pada semester pertama 2015, gejolak rupiah dinilai lebih besar dibandingkan pada semester kedua. Nilai tukar rupiah yang cenderung stabil belakangan ini diharapkan dapat mendorong kinerja ekonomi.             Febrio juga menyoroti kinerja ekspor dan impor yang sempat turun bersamaan pada tahun ini. Dampaknya adalah pada jumlah cadangan devisa yang sempat menurun. Namun demikian, Febrio optimistis bahwa cadangan devisa akan lebih stabil jumlahnya pada 2016.
            Kilas balik perekonomian 2015 juga tak bisa dilepaskan dari keputusan pemerintah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang dimulai pada September. Hingga saat ini, sudah ada tujuh paket yang diluncurkan ke publik. Febrio menilai pemerintah tidak terlalu perlu untuk mengeluarkan paket-paket lain dalam waktu dekat. “Tidak usah terlalu pusing
mencari paket yang lain lagi, yang sudah ada dijalankan saja dulu. Pasar dan pelaku bisnis akan melihat pemerintah memang serius,” kata Febrio.

Penyerapan anggaran dan pajak
            Di tempat berbeda, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Sri Adiningsih sepakat bahwa Indonesia tidak sedang berada dalam situasi krisis ekonomi. Sistem keuangan kita saat ini dibandingkan dengan tahun 1998 jauh lebih baik.“Industri perbankan cukup kuat dan sehat. Yang juga menarik adalah sistem keuangan non bank itu peranannya semakin meningkat,” ujar Sri.
            Sistem keuangan non bank seperti asuransi, pasar modal, dan lembaga pembiayaan yang berkembang sepanjang tahun ini dipandang positif. Industri perbankan masih dominan, tetapi peranannya semakin turun. “Itu bagus ya karena tidak bagus kalau suatu perekonomian hanya tergantung kepada bank,” kata Sri. Harapannya, perkembangan yang terjadi ini dapat terus berlanjut. Menurut Sri, kondisi industri bank dan non bank yang sehat dapat menjadi jangkar bagi stabilitas sistem keuangan kita.
            Dalam wawancara dengan Media Keuangan, Sri juga memberikan dua catatan penting terkait kinerja ekonomi 2015, yaitu tentang penyerapan anggaran dan penerimaan pajak. Penyerapan anggaran menghadapi sejumlah tantangan, antara lain perencanaannya yang masih belum komprehensif, lambat, dan adanya ketakutan pejabat untuk menjadi pimpinan proyek. Ekonom Universitas Gajah Mada itu berharap proses transisi pemerintahan di level nasional yang prosesnya berlangsung pada tahun ini dapat menjadi pelajaran. Apalagi, beberapa waktu lalu baru saja dilaksanakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak. Sri berharap pemimpin-pemimpin daerah yang terpilih, terutama jika ada pemimpin-pemimpin baru, bisa belajar dengan cepat.
            “Mudah-mudahan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang ada cukup kuat dan bisa mendampingi siapa pun yang terpilih menjadi gubernur, walikota, dan bupati,” kata Sri yang ditemui Media Keuangan di Kantor Dewan Pertimbangan Presiden di Jakarta Pusat, belum lama ini. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya perlambatan di dalam implementasi kebijakan anggaran. Sri berharap SKPD di daerah membantu untuk mendorong rencana pembangunan jangka menengah setiap daerah agar dapat menerjemahkan visi dan misi pemimpin daerah terpilih yang sekaligus sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
            Terkait realisasi penerimaan pajak, Sri berpandangan bahwa tahun ini akan menjadi periode yang berat. “Realisasi pajak tampaknya akan kekurangan cukup banyak dari target, yang belum pernah terjadi sejak tahun 1970-an,” kata Sri. Prediksi ini menjadi tantangan sendiri, lanjut dia, bagi pemerintah. Meskipun memang harus diakui di Indonesia banyak orang yang belum membayar pajak secara benar. Sri menilai perlu dibuat strategi-strategi untuk membenahi sector perpajakan, terutama dalam meningkatkan kepatuhan. “Jangan sampai usaha untuk meningkatkan pajak justru menimbulkan ketakutan orang untuk berbisnis, berinvestasi, dan membayar pajak dengan benar,” kata Sri. Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pajak dipandang perlu memikirkan pendekatan kekeluargaan yang lebih bisa diterima untuk meningkatkan kesadaran membayar pajak. Misalnya, pendekatan dengan sudut pandang bahwa membangun bangsa memerlukan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. “Jadi bukan hanya menakut-nakuti, melainkan juga memberikan pengertian supaya masyarakat dengan suka rela ingin berbagi, mau membayar kewajibannya karena juga peduli kepada masa depan bangsa dan negaranya,” Sri melanjutkan.
            Lebih jauh, pemerintah perlu bekerja keras untuk menunjukkan bahwa uang pajak yang dibayarkan masyarakat ada manfaatnya yang terlihat. “Selama ini kan sudah bayar pajak mahal, tapi keluhannya jalan masih buruk atau tidak ada pelabuhan, sehingga semuanya tidak tertata bagus dan mengakibatkan ketidakrelaan masyarakat membayar pajak,” ujar Sri. Pembenahan di sektor perpajakan akan membuat masyarakat lebih sadar dalam membayar pajak pada tahun-tahun mendatang.
            Pemerintahan Presiden Jokowi telah melakukan sejumlah kebijakan transformasional di bidang ekonomi. Salah satunya adalah menjadikan 2015 sebagai Tahun Pembinaan Wajib Pajak. Sri berharap inisiatif program itu dan kebijakan-kebijakan lain dapat mulai dilihat hasilnya tahun depan. Sri kembali mengingatkan bahwa pajak adalah alat, istrumen negara yang menjadi kewajiban warganya. Namun, kata Sri, hal itu bukanlah tujuan akhir. “Masyarakat sejahtera yang memiliki pekerjaan, penghasilan, dan jaminan sosial yang baik adalah tujuan akhirnya,” ujar Sri.

Yang penting daya saing
            Tahun 2015 juga memberikan catatan pentingnya meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Berdasarkan peringkat daya saing ekonomi Indonesia versi World Economic Forum (WEF), terjadi penurunan dari posisi 34 pada tahun lalu menjadi posisi 37 dari 140 negara. Dalam Global Competitiveness Report 2015-2016 yang dirilis WEF, daya saing Indonesia masih kalah dari tiga negara tetangga, yakni Singapura yang berada di peringkat 2, Malaysia di peringkat 18 dan Thailand di urutan 32. Indonesia unggul dari Filipina (47), Vietnam (56), Laos (83), Kamboja (90), dan Myanmar (131).
            Sri berharap program-program Nawacita Presiden Jokowi akan mampu mengubah ekonomi kita termasuk meningkatkan daya saing. “Perlu waktu, hanya saja saya sampaikan bahwa program kebijakan proyek jangka menengah kita bagus,” kata Sri. Program-program peningkatan kualitas SDM, pembenahan sistem birokrasi dan prosedur perizinan, termasuk pembangunan berbagai sarana infrastruktur memang perlu waktu untuk dapat dinikmati hasilnya. Namun, dengan perencanaan program yang baik pada RPJMN, Sri yakin pemerintah akan mampu mentrasformasi ekonomi kita menjadi ekonomi yang berdaya saing dan mandiri.







Sumber : Media Keuangan

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads

Follow us on FaceBook